Tampilkan postingan dengan label gambyong. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label gambyong. Tampilkan semua postingan

Rabu, 23 Maret 2011

urutan gerak tari gambyong

2. Urutan gerak tari gambyong
Bagian pertama ( Kebar I ) dengan gending ldr. Pareanom lrs. Pelog patet Nem adalah :
 Srisig miwir sampur
 Kebyok kedua sampur, kebyak sampur
 Ulap – ulap kanan, srisig kiri
 Merong laras kebyok sampur kiri
 Penthangan kanan, srisig kiri
 Panggel
3. a) Bagian II dengan gendhing Gambir Sawit adalah :
 Batangan
 Pilisan srisig kiri, magag
 Laku telu, nacah miring, srisig kiri, magag
 Ukel pakis, Sindhet ukel karno


 Penthangan kanan, ogeg lambung
 Gajah goling, magag
 Kawilan penthangan kiri, srisig magag
 Tumpang tali glebagan, sindhet ukel karno, srisig magag
 Tawing taweng ogek lambung, sindhet ukel karno srisig magag
 Tumpang tali. Kengseran, singget ukel karno
 Lembehan sampur kiri nacah miring, sampur kanan magag
 Kawilan menthang kiri srisig
b) Bagian Ketiga ( Kebar II ) dengan ldr. Pareanom adalah :
 Trap sekar
 Srisig kiri
 Srisig kanan

sejarah gambyong

1. Sejarah Gambyong
Tari gambyong merupakan perkembangan bentuk tari taledhek. Gambyong dapat juga berarti tarian tunggal yang dilakukan oleh wanita / tari yang dipertunjukkan untuk permulaan penampilan tari / pesta tari. Sedangkan gambyongan mempunyai arti golekan (boneka yang terbuat dari kayu) yang menggambarkan wanita menari di dalam pertunjukan wayang kulit sebagai penutup. Gambyong mengungkapkan keluwesan wanita dan bersifat erotis.
Istilah gambyong pada mulanya adalah nama seorang penari tayub / taledhek barangan yang memiliki kemampuan tari dan vokal / suara sangat baik sehingga sangat terkenal. Gambyong semula adalah nama seorang waranggana (wanita terpilih wanita penghibur)yang pandai menari dengan sangat indahdan lincah. Namanya Mas Ajeng Gambyong. Penari tayub / taledek barangan yang bernama gambyong telah ada sejak masa pemerintahan Susuhunan Pakubuwana IV yang hidup pada awal abad XIX sekitar tahun 1814 M

2. Identifikasi gambyong berdasarkan jenis tari
Tari gambyong merupakan salah satu bentuk tari tradisional jawa tari putri gaya surakarta yang merupakan hasil perpaduan tari rakyat dengan tari kraton. Pada awalnya tari gambyong sebagai bagian dari tari tayub / tari taledek yang hidup di lingkungan rakyat kemudian berubah menjadi bentuk tari yang berkembang di lingkungan kraton.

perkembangan gambyong

Sejarah Tari Gambyong
1. Peran dan Fungsi Tari Gambyong
Peranan tari gambyong dalam kehidupan masyarakat, menyebabkan tetap hidup dan berkembang sesuai dengan zamannya. Fungsi seni pertunjukan dalam kehidupan menusia dapat dikelompokkan menjadi 3 yaitu sebagai sarana upacara, hiburan pribadi dan tontonan. Berpijak pada fungsi seni pertujukkan itu, tari gambyong memiliki fungsi sebagai berikut :
a. sarana upacara yaitu gambyong disajikan sebagai bagian tari tayub yang disajikan untuk tujuan upacara tertentu misalnya upacara panen padi, bersih desa, perkawinan. Perkembangan akhir – akhir ini tari gambyong sering dipertunjukkan untuk penyambutan pembukaan dalam berbagai acara misalnya acara peresmian gedung, pembukaan acara kegiatan seperti penataran, konggres dan festifal
b. hiburan (pribadi) yaitu tari gambyong disajikan dalam acara perayaan misalnya ulang tahun kenegaraan, pesta – pesta perkawinan, khitanan dan sebagainya
c. tontonan yaitu tari gambyong disajikan dalam acara pementasan wayang orang, ketoprak, acara lomba dan acara khusus menyajikan tari gambyong.
2. Perkembangan Tari Gambyong
Tari gambyong pada awalnya adalah bagian tari tayub / taledek yang hidup di kalangan rakyat kemudian berubah menjadi bentuk tari yang berkembang di lingkungan keraton. Tari gambyong mengalami perkembangan dalam bentuk sajian dan koreografi. Perkembangan bentuk awalnya didominasi oleh kreatifitas dan interpretasi penari dan pengendang. Selanjutnya perkembangan gambyong di dominasi oleh koreografi – koreografi tari gambyong. Perkembangan tari gambyong diawali dengan munculnya tari gambyong pareanom susunan Nyi bei Mintoraras tahun 1950 di Mangkunegaran. Setelah itu muncul tari gambyong di luar Mangkunegaran diantaranya gambyong gambirsawit, gambyong pangkur, gambyong ayun –ayun, gambyong campursari, gambyong sala minulya, gambyong mudhatama, gambyong dewandaru.